Kisah Pengalaman Hidup Muh Cipto Waluyo - Bagian 2

 Pengalaman, akan menjadikan guru terbaik dalam menjalani prolematika kehidupan.  

Muh Cipto Waluyo saat bekerja di SMP PGRI 2 Ajibarang - 2008

Part 2 (12-33 story)

1.    Bertarung dengan menyanggah di sungai sawangan

Sewaktu SD gemar sekali mandi di sungai yang dibendung jika musim kemarau, pulang sekolah langsung berenang bermain bersama teman yang ada, dikala itu bermain di dekat bendungan di atasnya bendungan ada pohon waru yang digunakan untuk lompat jika mau berenang, sekitar jam 3 lebih sore hari, dimata kaki kiri seperti genggaman tangan yang halus namun kuat menarik kedalam sehingga semakin lama semakin tenggelam, saat itu menoleh kedalam dasar bendungan ternyata penuh rambut disemua dasar sungai, ditengah rambut itu terlihat muka orang menoleh berkeriput tersenyum menarik kaki kiri, sehingga spontan baca takbir berulang kali sambil menendang kearah cengkraman tangannya, akhirnya terlepas dan selamat.

2.    Penggaris kayu patah dengan tangkisan tangan

Bakat berkelahi semakin besar semakin kelihatan, sampai di usia SD pun sudah berani meladeni duel dengan orang lain, dengan metode taruhan jajanan atau lainnya. Waktu itu duel dengan teman sekelas di kelas 6 SD, karna segala serangan mampu ditangkis dengan baik, akhirnya lawan menggunakan penggaris kayu panjang 1 meter lebar 5 cm tebal 0.5 cm dipukulkan ke kepala posisi njiting dan berhasil ditangkis dengan lengan kanan sampai patah garisannya, dengan Tarik nafas dan bacaan takbir alkhamdulilah kepala selamat meskipun lengan memar.

3.    Cerdas dengan Tirakat & Qiyamulail

Sejak kecil, usia TK terbiasa ikut Mbah Risem untuk (puasa senin kamis) tirakat  & qiyamulail, sesekali ikut Pak De Kyai Ahmad Subhan ngaji ke Mbah KH Muzni lesmana, setelah Mbah Risem kembali ke Rahmatulloh, maka ikut qiyamulail dengan orang tua, waktu ikut ortu inilah sama ayah di omongin supaya minta sama Alloh SWT supaya diberi pintar dalam bersekolah, maka diikuti. Setelah itu ternyata terbukti yaitu selalu rangking 1 di SDN 3 Jingkang sampai dapat beasiswa prestasi 3 tahun di SMPN 1 Ajibarang, di SMP prestasi menurun karna sudah berfikir berbagai hal sehingga mendapat beasiswa SMAN 1 Ajibarang hanya 1 tahun, itupun sangat bersyukur berkat riyadhah yang biasa dilakukan sehingga Alloh SWT meridloi-Nya.

4.    Menggendam siswa jutek dengan Qiyamulalail

Suka terhadap lawan jenis adalah hal yang biasa, namun bagi yang berparas cantik malah bergaya dan mengejek pada yang pas pasan. Hal ini terjadi di SD, SMP maupun SMA yang membuat hati sakit sehingga akhirnya mengambil salah satu bagian tubuhnya untuk di puasa & qiyamulail agar suka sampai berbalik mengejar, setelah berhasil tak diapa apakan dan dibiarkan saja, hanya membuktikan ternyata Alloh SWT mengabulkan doa dan usahanya semua haba Nya.

5.    Menerobos gendruwo di jembatan

Sepulang sekolah SMP N 1 Ajibarang, suatu ketika mengikuti ekstrakurikuler di sekolah, jam pelajaran di sekolah dari jam 07.00 s.d jam 14.30. istirahat 30 menit kemudian mengikuti ekstra PKS, Takraw dan Sepakbola. Dan tambahan mengikuti kegiatan olahraga silat Maruyung di Pandansari. Sepulang ekstra sudah jam 17.00. bergegas ke Masjid Jami At Taqwa untuk Sholat Ashar dan sambil istirahat mengatur nafas, dilanjutkan pulang menuju terminal ternyata jam 17.30 sudah tidak ada koperades lagi sehingga terpaksa harus jalan kaki dari Ajibarang sampai Jingkang 4 kali dalam seminggu. Suatu saat di pesawahan lewat pasar baru ajibarang mau menyeberang jembatan kecil penghubung Ajibarang dan Giyubug / Pancurendang, saya sudah kemaleman dan gelap remang, saat itu jalan tertutup warna hitam, suara mendengur berulang kali terdengar, terus berfikir, puter balik jadi tidak pulang, kalo mau pulang harus melalui sosok hitam yang menutupi jembatan, bermodal dzikir thoyibah akhirnya berusaha melewati menerobos sosok hitam, yang ternyata dilalui seperti jeli yang pekat dan sesak ga bisa nafas bebas. Namun akhirnya dapat dilalui dengan baik meskipun hamper kehabisan nafas, lanjut mampir mushola sholat maghrib di mushola penduduk, sambil ditanya. Dan ternyata kata orang memang jembatan itu dekat kuburan memang sering menampakan penghuninya.

6.    Turun dari laju koprades dengan melompat

Di usia SMA semakin mahir dalam berkelahi, begitu pula dengan olahraganya, jaman itu anak sekolah pulang pergi pakai koperades kuning, anak putri boleh masuk ke dalam namun anak putra hanya boleh di samping, belakang maupun atas koperades. Karna hal inilah biasanya sudah bayar duluan sebelum turun, sehingga pas di lapangan sawangan tanpa memberi isyarat pada supir biasanya melompat turun dari koperades, meskipun sedikit takut tapi juga menguji nyali sambil takbir, terkadang lompat dari samping, dari belakang maupun dari atas koperades, sehinga dijuluki sama temen Spidercip.

7.    Duel kestaria di SMA N Ajibarang

Dimasa dulu, anak yang ikut beladiri sangat variatif dari berbagai sumber perguruan yang berbeda beda, di SMA N 1 Ajibarang sendiri ada ekstra wajib yaitu silat dari Merpati Putih, para pengajarnya merupakan teman seangkatan, sehingga suatu saat ada yang minta duel setelah pulang sekolah, sebagai Jiwa Maruyung maka merasa tertantang seperti semboyan warna kuningnya, akhirnya berduel didalam kelas dengan diwasiti teman teman lain yang menyaksikannya, sampai suatu ketika mendapat serangan kursi yang dipukulkan dipunggung, sampai kursinya reot, kemudian mengencangkan badan sambil baca lahaula walaquwata illabillahi aliyul adzim, namun masih kuat berdiri akhirnya kembali menyerng dan menang.

8.    Kebiasaan duel sampai terluka

Semakin lama jiwa pendekar semakin menguat dalam jiwa, pendekar pendekar di sekitar jika ketemuan di jalan tanpa ngomong duluan pasti mereka langsung pasang kuda kuda baca doa dan menyerang, seperti mau berangkat sekolah SMA pagi hari di daerah pesawahan, berpapasan dengan orang yang pernah ikut silat di Pondoknya, sudah tahu sama tahu langsung pasang kuda kuda dan bertanding, sampai salah satu terluka baru pergi tanpa pamit, itu tradisi pendekar. Sampai kepada kakak sendiripun sama sampai kaca jendela masjid utara jebol 2 buah karna terpukul serangan, akhirnya terluka besetan kaca 2 tempat dilengan. Barulah berhenti. 

9.    Menangkis sabetan besi galvalum dengan leher

Postur pendekar memang tidak dapat disembunyikan rapinya, jalannya pendekar dikira menantang bagi orang lain, sehingga sewaktu SMA kelas 12, ditantang oleh preman Ajibarang dengan disabet dulu kepala dengan tiang net takraw dari galvalum, untung tidak mengenai kepala tapi justru mengenai leher dan terasa mau putus, dengan baca lahaula wala quwata illabillahi aliyul adzim, sambil menoleh berat ternyata sengaja dipukul agar tumbang, tapi nyatanya masih kuat berdiri ahirnya si pemukul lari tungang langgang.

10.                      Dikeroyok sekitar 50 pendekar perguruan lain

Pada tahun 2003, ada event lomba yang disebut dengan PORDA (Pekan Olahraga Daerah) yaitu untuk kelas dewasa 17 s.d 35 tahun. Waktu itu perwakilan Maruyung hanya 4 orang, 3 putra (Babeh, Rohani, Mustolih) 1 putri (Azizah), mendatangi tempat lomba porda KEC AJIBARANG diadakan SMA N 1 Ajibarang yang sedang berkumpul ekstra silat disana, 3 Putra dari maruyung menempati kelas A, B, C dan 1 putri di kelas B, 3 peserta maruyung tumbang semuanya kecuali babeh yang baru lulus SMA di kelas C 55-60kg. dalam semi final selalu bertanding dengan pelatih perguruan lain, dan selalu menang mutlak mengunci dan menjatuhkan sehingga membuat ciut nyali para lawannya. Tiba saat final bertemu dengan pelatih ternama dari perguruan ternama, dengan disaksikan para santri lawannya 50 lebih. Dalam final ini tehnik gerakan, kekuatan dan gengsi perguruan menjadi satu, serangkaian serangan dibangun sampai tendangan keras untuk menjatuhkan lawan namun ditahan dengan senyum sinis oleh lawan dengan dada terbuka lebar. Maka Babeh juga membalas kesombongan lawan dengan menerima serangkaian serangan tangan dan tendangan hanya dengan badan tak dihalangi, sampai body protector terlepas terkena serangan, namun tetap tidak bergeming. Melihat semakin sengit, body protector Babeh yang terlepas, maka wasjur memutuskan untuk bertanding tanpa adanya pelindung body protector. Pertandingan sangat sengit namun dengan mudah dapat dikuasai dan selalu dijatuhkan lawannya, hingga diputuskan menang telak. Namun hal ini ternyata menimbulkan sakit hati santri lawan yang 50 lebih, akhirnya di jalan raya babeh dijagal langsung ditendang bibir kiri sampai robek, sadar dianiaya barulah mengerahkan tenaga dan berdoa lahaula walaquwata illabillahi aliyul adzim bertanding dikeroyok jadi 1 vs 50 lebih, namun tetap menang mampu mengunci dan menumbangkan semuanya, sampai ketua pimpinan lawan berlutut memohon maaf, sehingga berakhirlah duel tersebut. 

 

11.                      Terbang lompati dua mobil

Agustus 2003, sepulang silat di Ajibarang. Bersama sahabat Teguh Priyono dari Sawangan, boncengan motor F1Z-R. Usia 18, jiwa muda kependekar membara, bermotor jika tak ngebut tak asyik. Sehabis latihan badan rasa bugar, bermotor boncengan pulang kecepatan tinggi, dari arah ajibarang 90 s.d 100 km/jam. Sekitar jam 17.1o@n tancap gas arah pancurendang. Di tanjakan munggangsari tiba tiba mobil kijang merah tertulis Bank BII rem mendadak, kaget tak bisa mengerem, terpikirkan salip kanan, namun baru sedikit roda tek arahkan ternyata arah berlawanan ada bus kurnia hijau jadul yang melaju cepat sambil klakson, teman mbonceng bernama Teguh Priyono loncat harimau di depan bis kurnia dengan kecepatan melebihi bisnya lanjut guling depan sampai menerobos pagar pohon tretean depan rumah orang, maka seketika itu berpikir cepat banting nyalip ke kiri, ternyata banyak orang nongkrong di jalan, akhirnya bingung. diambil keputusan yang terbaik, dari pada tertabrak bis kurnia jadi hancur, belok kiri nabrak manusia yang nongkrong, kena sanksi puluhan juta. Akhirnya mutuskan untuk nabrak Kijang Bank BII sehingga harus meloncati 2 mobil Kijang BII dan depannya yaitu Mobil Opencup sekaligus, maka saya tabrakan motor ke belakang mobil Kijang BII merah, Tarik nafas hentakan kaki kanan dan berdo’a Lahaula wala quwata illabillah Allohu Akbar seketika itu seperti kena kipas angin, semilir dan sadar waktu di puncak ketinggian saat terbang diatas 2 mobil, turun dengan posisi kuda kuda tengah. Akhirnya dikerumuni orang sambil ditanya terus “Mas, punya ilmu apa kok bisa terbang..?” saya bingung, dan janggut luka robek karna benturan dengan kijang, sabuk melayang dari ikatan kaki dan ternyata ada polisi pulang sehingga langsung ditilang polisi.  

 

12.                      Membanting lawan saat tanding di PP Al Munawir

Sekitar tahun 2006, silat Maruyung masuk di PP Al Munawir Ajibarang, santri pondok sebagai santri silatnya, latihan pertama santri sangat antusias untuk berlatih, santri yang dewasa dewasa yang menginginkan langsung uji performa terhadap pelatihnya, akhirnya setelah beberapa kali latihan sang pelatih meladeni duel dengan para santri di sana, dengan selalu berdoa khusus sebelum tanding, meskipun bertubuh kecil namun pelatih mampu mengangkat lawan duel yang lebih besar dan membanting semua ke lantai, setelah semua merasa puas bertanding baru saat itu dikeluarkan sabuk pelatih yang berwarna biru. Barulah mereka yaqin dan berbicara “Ngapurane mas, dikira cupu, ternyata suhu”. Diwakili oleh Gus nya dalam mengucapkan. Setelah latihan berikutnya alkhamdulilah berjalan normal.

13.                      Serangan santet Wilaok di Pandansari

Waktu itu sering ngaji ke menantu Sang guru KH Achmad Mukto yang ada di Pandansari, seminggu 3x yaitu malem Akhad, Malem rabu & malem Jum’at. Suatu saat sedang menangani pasien kena santet, pasien baru ditangani sekali, dari prediksi pasti akan menyerang baik, dan ternyata benar, ba’da isya datanglah Wilaok melintas dengan  suara yang sangat menakutkan, menerjang tubuh sampai ga bisa nafas seperti tenggelam hampir 5 menit, setelah ketahuan baru ditolong dengan baca lahaula wala quwata illabillahi ‘aliyul ‘adzim dan Allohu Akbar, santet wilaok dapat dikeuarkan dan kondisi normal kembali.

14.                      Tawuran dengan bertopeng

Masa muda masa yang berapi api, waktu itu di jingkang ada tawuran kelompok antara kaliwulan dan manuksiung, karna terkenal ahli berkelahi di lingkungan dengan silat Maruyung nya, maka ketua pemuda kaliwulan menjemput dan mengajak untuk ikut tawuran, karna terkenal sebagai pentolan pemuda kalisari. Padahal kaliwulan ya saudara, dari manuksiung ya juga saudara. Akhirnya solusi memakai topeng agar tak ketahuan semuanya.

15.                      Memindahkan Jin bos cengkeh

Sewaktu ikut ngaji di Ajibarang, suatu saat disuruh memindahkan jin yang ada dirumah bos cengkeh. Jin ini merupakan penunggu asli rijalul ghoib yang wilayahnya dibangun rumah oleh bos cengkeh, akibatnya bos cengkeh merasa tidak kenyang jika makan bisa sampai makan nasinya saja satu magic com habis, karena merasa aneh maka menghubungi untuk solusinya. Langkah pertama dibacakan Al Quran 30 Juz di rumah bos cengkeh, langkah kedua dihari khusus di mujahadah Thoyibah untuk memindahkan jin penunggu ke tempat lain, waktu itu tiga orang membawa 4 jin, dipindahkan di pohon stadion mini Ajibarang. Dengan diikat dengan ayat kursi pada 4 pohon disana. Alkhamdulilah aman dan selamat.

16.                      Tertebak bakat oleh sang guru Thoriqoh dari Majenang

Inspirasi pada walisanga sangat mendalam di hati dan pikiran, seorang muslim harus punya keyakinan dan kebatinan yang luar biasa. Di Jingkang ada aliran Ahmadiyah yang membuat Mujahadahan setiap malem Jum’at jam 23.00 s.d 03.00 dipimpin oleh Ust Wawan Sutarji dari Semarang. Waktu itu kelas 12 SMA N Ajibarang ikut mujahadahan meskipun hanya sekedar ikut dan tertidur pulas karna badan capek habis sekolah dan ekstra yang menguras tenaga disiang hari. Anehnya pas robityoh thoriqoh hadir ikut mujahadahan yaitu KH Ahmad Basuki, setelah selesai mujahadahan beliau menyampaikan beberapa hal. Pertama semuanya dari peserta mujahadah ini akan mendapatkan hasil sesuai keinginannya, kedua aka nada yang muncul yang mampu meneruskan kebatinan dengan baik / Waskitho, kemudian jamaah sekitar 15 orang dewasa menanyakan “kintene sinten nggih sing saged niku”, kemudian KH Ahmad Basuki menyampaikan, “wonge sing neng mburi dewek, wiridane malah kambi turu bae” sambil memandang diikuti semua orang melihatnya. Seketika itu pura pura ngantuk dan pura pura tidur, namun telinga mendengarkan apa yang disampaikan.

Setelah pulang semuanya tinggal berdua dengan sahabat sodikun, kemudian disuruh supaya bawa jengger ke empat itu di malem jumat berikutnya untuk dikunci doa dan permintaannya,

Pertama.. teman ditanya “njenengan pengin Gusti Alloh ngijabaih dadi apa.?” Dijawab oleh sodikun “Tukang ngode bae lah”. Lalu di potong jenggernya.

Kedua.. Guru robithoh bertanya “Nek njenengan pengin Gusti Alloh ndadekna koe apa.?” Lalu dijawab, “dadi guru apa bae.!”. lalu dipotong jenggernya.

Setelah beberapa tahun barulah terkuak misterinya, ternyata Alloh mengijabah semua peserta mujahadah dengan sempurna. Ada yang ingin rumah gedongan maka diijabah, pengin menikah maka mendapatkan jodohnya, terlebih yang di washilaih dengan jengger, Alloh mengijabahnya jadi tukang ngode yang selalu dihubungi orang untuk bekerja. Dan ternyata permintaan tersulit yaitu DADI GURU APA BAE.. karna artinya ilmu tertinggi dan semua ilmu terserap didalamnya. Walauhu aklam bishowab.

17.                      Bersama menarik Keris Naga Sasra dari bintang langit Pandansari

Waktu remaja senang petualang ghaib, juga senang akan benda bertuah yang bersejarah. Sebelumnya sudah ada kabar ghaib cara untuk menarik mewujudkan Kering Naga Sasra, yaitu menyediakan dedek camboran air panas, singkong bakar, wangi jafaron dan misik. Semuanya harus ada di taruh di curug 1000, saat itu rencana hanya 2 orang bersama anak guru pusat maruyung. Pas akan mulai mujahadah thoyibah, ndilalah dating supriyadi santri tak diundang dari sawangan yang mau ikut mujahadahan, meskipun secara sabuk diatas namun secara kebathinan masih belum mencukupi. Dengan terpaksa akhirnya diperbolehkan ikut ritual. Dalam ritual supriyadi tak kuasa menahan ngantuk akhirnya tertidur, namun tinggal 2 orang tetap jalan mujahadah sampai 2 jam lebih baru ada reaksi yaitu langit yang biasa berubah cerah banyak bintang bertaburan, salah satu bintang semakin terang dan membesar, ternyata bintang itu pusaka keris naga sasra yang turun dengan sinar yang kuat tapi tidak silau, terangnya lingkungan sampai seperti jam 12 siang.  Panjang sekitar 1.5 meter menancap pada pohon pisang dengan bersama sama 2 orang memegang gagangnya untuk dicabut dari pohon pisang dengan baca syahadat dan takbir, namun pada waktu prosesi penabutan itu, supriyadi yang tertidur terbangun dengan sendirinya karna saking terangnya sinar yang keluar dari pusaka itu. Karna terbangun itulah yang menyebabkan keris itu naik lagi ke langit dan menjadi bintang seperti lainnya kembali.

18.                      Mengangkat orang dengan satu tangan kiri saja di Kalibenda

Tahun 2006 waktu itu jadi penjaga malam di SMP PGRI 2 Ajibarang, di suatu malam ada yang menjemput minta tolong untuk mensolusikan orang kesurupan di Karang pucung Desa Kalibenda. Seperti anak muda lainnya, hanya bercelana panjang dan jaketan tanpa songkok dan lainnya berangkatlah untuk misi tersebut, sesampainya disana objek yang bernama WATAM sedang kesurupan yang ternyata sudah sering terjadi hampir setiap malam selama 6 bulan terakhir. Orang berkerumun dihalaman maupun didalam rumah sampai dikira penonton sehingga ga bisa masuk sehingga hanya menunggu di halaman saja, baru setelah dicari sohibul bait dibuatkan jalan masuk ke rumah. Penonton awalnya meragukan sambil berkata “deneng kaya bocah dolan, jarku mbah mbah”. Disana sedang ada Ustadz setempat sedang membaca doa untuk kesembuhannya, dan sang ustadz mempersilakan untuk gentian menangani pasien, namun akhirnya minta agar ustadz tersebut untuk membantu bersama dalam penyembuhan, karna taka da salahnya malah akan semakin baik dalam kolaburasi. Dalam prosesi Jin tersebut ternyata dari pohon besar yang pernah di tebang oleh korban karna disuruh bos kayunya, kejadian sekitar 6 bulan silam. Berbagai cara dan doa dilakukan namun tak kunjung sembuh, minta rokok, minta kopi sampai akhirnya mau beradu ilmu minta berkelahi, dan dijawablah “Ayu nek arep gelut ya siap, kie Pendekar Maruyung, nek pengin lurugan ayuh meng Jingkang”. Mendengar itu nyalinya ciut dan masuk ke lorong amben, karna merasa dipermainkan akhirnya pasien ditarik kakinya dari longan amben, gemuruh didada dan pikiran bergejolak, sambil baca lailaha illalloh, allohu akbar dan Tarik nafas pasien dicekik pakai tangan kiri dan mengangkatnya sampai menggantung dari tanah, seketika penonton terdiam melihat hal itu. Dan akhirnya sembuh siuman.

19.                      Sengatan Jafaron dihidung saat Ijazahan KH Achmad Mukto

Tahun 2003 sudah mulai ngaji ke Pusat Maruyung kepada Pendiri Maruyung yaitu KH Achmad Mukto – Watumas, Purwanegara, Purwokerto. Waktu itu yang boleh ikut ngaji Ijazahan disana adalah para senior yang sudah membuka kolat di daerah masing masing. Ratusan santri berkumpul di Musholla Ad Dzikro dimana musholla tersebut sebagai tempat rutin mujahadah Mbah Mukto setiap malamnya. Disana diadakan rutinan Ijazahan Amaliyah Maruyung setiap malem Jumat Kliwon, diantara ratusan peserta ternyata yang termuda adalah dari Jingkang masih kelas 3 SMU dan usia 18 Tahun, sehingga hamper saja ditolak oleh Mbah Mukto, namun atas rekomendasi dari para senior akhirnya diperbolehkan ikut ngaji dengan dijanji langsung oleh Mbah Mukto, Selama masih ada nafas dan sehat atas ridlo Alloh SWT maka akan memperjuangkan dan menghidupkan Maruyung dimanapun berada, itulah janji yang wajib dipenuhinya. Akhirnya pada suatu saat mujahadahan berlangsung, karna kalah usia dengan senior lainnya maka supaya mundur mundur terus sehingga kebagian tempat duduk dibelakang sendiri dekat pintu keluar, hamper diatas sandal. Namun keanehan sering terjadi, yaitu suatu saat Mbah Mukto yang duduk di pengimaman jauh disana, saat mujahadah berlangsung bau Jafaron yang digunakannya menyengat dihidung sampai sesak nafas karna wanginya, padahal yang lain tidak merasakannya. Setelah selesai diceritakan pada seniornya, ternyata konon itulah proses transfer keilmuan dari Mbah Mukto pada murid yang dipilihnya. Ngaji ke Mbah Mukto dari tahun 2003 s.d 2006 yaitu wafatnya beliau 16 Agustus 2006. Semoga Alloh SWT mencatat beliau sebagai orang sholeh dan memberkahi semuanya. Amin.

20.                      Mendapat murid jin harimau Ganda Arum

Dalam perjalanan pembelajaran ilmu bathin, sebagai seorang pendekar tak lepas dari kebathinan, sebagai simbolisnya mempunyai Maung bagi yang telah menguasainya (menurut para senior). Seiring waktu karna sering benturan dengan sisi hitam dilingkungan dengan aurod Dzikir Thoyibah yang setiap malam diistiqomahkan, maka datangnya dari rizalul ghoib yang ada di Jingkang, yaitu Syaikh Ahmad Al Muhajir beliau memberikan 2 santri ghaibnya untuk ikut ngaji salah satunya yaitu Ganda Arum. Jika dalam mujahadah dating maka dating dengan salam yang menggetarkan sehingga membuat penasaran apakah wujudnya. Atas perintah dari Sang Guru yaitu Puasa 3 hari mutih, Qiyamulai Hajat 100 Qulhu & Thoyibah, maka setelah selesai bertemulah, dengan pertama melihat warna putih seperti tiyang masjid dikanan dan kiri, namun setelah dipikir piker ternyata beda dan dalam hati berkata, “jarku saka masjid warna kuning emas, geneng warnane putih” setelah ditengok kebelakang ternyata harimau yang sangat besar, dengan kakinya saja sebesar tiyang masjid, tinggi punggungnya sekitar 3 meter, lalu harimau ganda arum mengucap “Assalamu’alaikum Wr Wb” dan berhasil dijawab dan langsung pingsan. Akhirnya terbangun saat adzan subuh.

21.                      Menaklukan Ratu Jin di Curug Cipendok & pesannya

Sekitar tahun 2006 an, di Kalisari Jingkang ada ibu muda beranak satu, yang sedang kerasukan Ratu Jin dari Curug Cipendok, hal ini terjadi karna orang tersebut habis plesiran kesana diantar tukang ojek, disana hamper terjatuh namun ditolong hembusan angina sehingga tidak jadi jatuh. Sepulangnya sore hari barulah malamnya kesurupan, yang ternyata hembusan angina itu adalah masuknya ratu jin dalam tubuhnya. Berbagai upaya dari keluarga mendatangkan para normal dan kyai untuk menyembuhkan namun tak kunjung sembuh, jika disyarati sesuatu maka tahu sebelumnya, jika dibacakan Doa Al Qur’an maka akan menirukannya, itu terjadi karna ternyata Ratu Jin adalah islam. Akhirnya sampai 40 hari kesurupan barulah Ratu Jin Curug Cipendok itu menyampaikan maksudnya yaitu “Jenengku Ratu ANJANI, Ratu Curug Cipendok, aku mengeneh sebab aku seneng karo bocah iki kon bener, lan jenenge pada karo jeneng anaku sing neng ghaib, aku ra bisa ditok ke kecuali ganing bocah nom kue sing neng latar, kaos biru, lagi sidakep, kon reneo”. Seketika itu semua orang tertuju ke sana, dan barulah masuk mendekati yang kesurupan. Saat itu barulah terjadi dialog dalam bathin, “Nek pancen bener makhluk ghaib iki Ratu Anjani, jawaben, koe balio maring asalmu, carane pie lan ojo macem macem, kabean atas takdire pangeran Alloh SWT” banjur dijawab dhohir “Ya aku Ratu Anjani, mung koe sing iso baleke aku meng Curug Cipendok, duduten neng bunbunan rambut 7 wacanen ayat kursi ping 7, anterke karo amalanmu sing anyar”. Banjur dibathin lagi “apa aku nganggo amalan Raga Sukma go nganterke balik” dan dijawab oleh Ratu Anjani dengan dhohirnya “lha wis ngerti takon.!”. Sekitar jam 4 sorean dengan mengucap Syahadat dan Dzikir Yasin 82 sebanyak 7 kali maka seperti pandangan terbang sampai melihat Curug Cipendok. Barulah setelah itu siuman setelah 40 hari tak sadarkan diri.

22.                      Mengunci khodam goni ebeg yang tidak mau sholat

Pada waktu menjadi penjaga malam di SMP PGRI 2 Ajibarang, datanglah anak muda yang dikenal sebagai goni Ebeg dari Manuksiung, pemuda itu ingin menjajal khodam ebegnya pada pedang yang dibawa, akhirnya dipersilahkan, namun baru memegang gagannya sudah tak kuat dan terpental jatuh ketanah, kemudian minta dibukakan, akhirnya pedang dikeluarkan dengan membaca Syahadat 3x & Lahaulawala quwwata illabillahi ‘aliyul adzim, maka dicabut pedang dan tersungkur lebih jauh pemuda tersebut. Kemudian dihampiri dengan disentuh dan dibacakan istighfar, maka hilang efeknya, namun hilang pula khodam ebegnya. Maka pemuda tersebut minta dikembalikan khodamnya dan diperkuat lagi, namun akhirnya sang pemuda ditanya dulu, “Ya bisa khodam ebege tek balekna, karo tek tambaih daya kekuatane asalkan sholat 5 wektune aja lat ya” kemudian goni ebeg itu menjawab, “lha nek ken sholatah inyong urung sanggup, ya punten balekna ae khodam sing biasa, inyong go ngode karo tulung seteyenge” atas permintaan seperti itulah akhirnya dikembalikan yang tadinya terkunci atas ijin Alloh SWT.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Pengalaman Hidup Muh Cipto Waluyo - Bagian 2"

Posting Komentar